Computer File
Kidung di Tanah Terkutuk
Argani tiba-tiba mendapatkan kabar jika sang nenek telah meninggal dunia pada hari Rabu, lebih tepatnya Selasa malam. Ia tidak pernah menyangka jika berita kematian sang nenek itu datang secara mendadak, pasalnya baru saja hari kemarin ia dan sang adik menelepon sang nenek yang masih terlihat bugar dan sehat. Beberapa waktu berselang, Argani mendapatkan sebuah tugas dari sang ibu untuk mengurusi sertifikat rumah sang nenek dan juga surat keterangan kematian di Jawa timur. Dan liburan sekolah lah menjadi kesempatan Argani untuk pergi bersama sang adik pergi ke sana. Argani juga mengajak kedua teman dekatnya untuk sama-sama berlibur di daerah Jawa Timur itu. “Tanah menika sanes lah tanah suwarga, wonten tanah menika sadayanipun mboten ngagungani nasib ingkang nggih. Keburukan ajeng rawuh lan ndhereki sintena ingkang napakaken samparanipun lan manggen. Tanah ingkang ajeng ngasta kesengsaraan, rekaos ngantos kasedan.” (Di tulis dalam Bahasa Jawa) “Tanah ini bukanlah tanah surga, di tanah ini... Semuanya tidak memiliki nasib yang baik. Keburukan akan datang dan menyertai siapapun yang menginjakkan kakinya dan menetap. Tanah yang akan membawa kesengsaraan, sengsara hingga kematian” (Arti dalam Bahasa Indonesia) Itulah kalimat yang terdengar di telinga Argani ketika ia, kedua temannya beserta adik laki-lakinya menginjakkan kaki di sebuah rumah besar yang telah di wariskan oleh sang nenek padanya. Kalimat tersebut bagaikan sebuah nyanyian yang di bisikan ke telinganya. Karena Argani tidak mengerti Bahasa Jawa, maka ia mengabaikan suara tersebut. Suara yang sebenarnya adalah sebuah peringatan... Peringatan dalam bentuk sebuah Kidung, yang selalu berbunyi pada siapapun yang menginjakkan kakinya di tanah itu. Tanah terkutuk!
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain