PERPUSTAKAAN WIDYA GRAHA

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Kidung di Tanah Terkutuk

Computer File

Kidung di Tanah Terkutuk

Nara Eander - Nama Orang;

Argani tiba-tiba mendapatkan kabar jika sang nenek telah meninggal dunia pada hari Rabu, lebih tepatnya Selasa malam. Ia tidak pernah menyangka jika berita kematian sang nenek itu datang secara mendadak, pasalnya baru saja hari kemarin ia dan sang adik menelepon sang nenek yang masih terlihat bugar dan sehat. Beberapa waktu berselang, Argani mendapatkan sebuah tugas dari sang ibu untuk mengurusi sertifikat rumah sang nenek dan juga surat keterangan kematian di Jawa timur. Dan liburan sekolah lah menjadi kesempatan Argani untuk pergi bersama sang adik pergi ke sana. Argani juga mengajak kedua teman dekatnya untuk sama-sama berlibur di daerah Jawa Timur itu. “Tanah menika sanes lah tanah suwarga, wonten tanah menika sadayanipun mboten ngagungani nasib ingkang nggih. Keburukan ajeng rawuh lan ndhereki sintena ingkang napakaken samparanipun lan manggen. Tanah ingkang ajeng ngasta kesengsaraan, rekaos ngantos kasedan.” (Di tulis dalam Bahasa Jawa) “Tanah ini bukanlah tanah surga, di tanah ini... Semuanya tidak memiliki nasib yang baik. Keburukan akan datang dan menyertai siapapun yang menginjakkan kakinya dan menetap. Tanah yang akan membawa kesengsaraan, sengsara hingga kematian” (Arti dalam Bahasa Indonesia) Itulah kalimat yang terdengar di telinga Argani ketika ia, kedua temannya beserta adik laki-lakinya menginjakkan kaki di sebuah rumah besar yang telah di wariskan oleh sang nenek padanya. Kalimat tersebut bagaikan sebuah nyanyian yang di bisikan ke telinganya. Karena Argani tidak mengerti Bahasa Jawa, maka ia mengabaikan suara tersebut. Suara yang sebenarnya adalah sebuah peringatan... Peringatan dalam bentuk sebuah Kidung, yang selalu berbunyi pada siapapun yang menginjakkan kakinya di tanah itu. Tanah terkutuk!


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
-
Penerbit
: .,
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
puisi
novel
e book
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
  • Kidung di Tanah Terkutuk
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN WIDYA GRAHA
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Sebagai Sistem Manajemen Perpustakaan yang lengkap, SLiMS (Senayan Library Management System) memiliki banyak fitur yang akan membantu perpustakaan dan pustakawan untuk melakukan pekerjaannya dengan mudah dan cepat.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik