Text
Nyanyian Karah
Silang sengketa itu membawa para petani berhadapan dengan lembaga dan alat kekuasaan Negara, yakni TNI Angkatan Darat. Sebagai penjaga keamanan dan kedaulatan Negara keberadaan TNI ad mutlak penting. Mengutip ucapan Almarhum Jenderal Oerip Soemohardjo, “Tidak mungkin ada Negara zonder tentara.” Jadi keberadaan tentara dalam suatu Negara memang mutlak.
Sementara itu, Aris Panji WS sebagai sastrawan tidak bisa membisukan hati nurani untuk tidak berbicara membawakan aspirasi “ibu kandungnya”, ya para petani itu. Maka lahirlah kumpulan puisi ini. Terasa ada kepiluan, ratapan kepada Allah, dan terkadang terasa ada kegemasan Sang Sastrawan dalam upaya menyuarakan hati nurani yang ingin dibelanya..
“Saya mengajak semuanya melapangkan jiwa: bacalah puisi-puisi yang cerdas ini dengan hati terbuka agar kita bisa merenungkan suara sejati yang mungkin ada di dalamnya. Memang puisi-puisi Aris Panji Ws yang secara sastrawi cukup kuat ini, ada aroma realisme sosialnya yang pada masa lalu dianggap kiri”. (Ahmad Tohari, Novelis Ronggeng Dukuh Paruk; Sastawan, Budayawan)
“Membaca satu demi satu puisi dalam antologi Nyanyian Karah, menghadirkan sosok seorang Aris Panji Ws, representasi penyair Kebumen yang paling konsisten dalam berkarya. Karya-karyanya mengesankan ketegasannya untuk mengambil posisi berseberangan dengan penguasa….” (Achmad Marzoeki, Penulis, Pendiri “Masjidraya” Institute)
| 02690 | 811 ARI n c.1 | (RAK 800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain